RSS

Monolog

Mari kita mulai. Berbicara layaknya dua orang dewasa…
A ; apa yang bisa kau jelaskan padaku
D ; …
A ; tentang kepergianmu
D ; aku tak pernah pergi
A ; kamu tak pernah-lagi- ku lihat, buatku kamu pergi
D ; aku tak pernah benar-benar pergi
A ; kau tak pernah ada. Itu berarti kamu pergi.
D ; aku hanya disini.
A ; aku tak pernah melihatmu
D ; aku selalu tau apa yang terjadi dengan mu
A ; aku tak pernah bisa rasa hadirmu. Itu berarti kamu tak ada.
D ; aku ada
A ; tapi, aku tak pernah rasakan hadirmu. Buatku kamu tak pernah ada.
D ; aku ada. Dalam kenanganmu. Dalam mimpi-mimpimu saat kau merindukanku. Dalam segenap marahmu saat kau mengingatku.
A ; kau tak pernah nyata ada buatku!
D ; aku nyata. Aku ada. Setidaknya aku menyadari aku ada buatmu.
A ; aku ingin kau nyata. Hadir saat aku merindukanmu, berada disisi ku berbincang ringan. Bukan ilusi. Karenanya aku tak pernah menyadari hadirmu.
D ; Kau selalu tak pernah menyadari hadirku. Seolah aku tak pernah ada buatmu.
A ; Kau memang tak pernah ada, selain guratan senyum yang menghantuiku. Lirih suara yang membangunkanku dari mimpiku. Semua terpatri abadi.
D ; Lupakan.
A ; Bagaimana bisa …
D ; Kau pasti bisa. Suatu saat kau akan bisa.
A ; Seharunya… Kau bisa? Maksudku… apakah kau benar2 melupakan ku?
D ; Hal seperti apa yang seharusnya masih ku ingat tentangmu?
A ; Mengapa kau melupakan ku?
D ; Mau tambah squah lime nya lagi? *mengalihkan pembicaraan*
A ; Kau tak benar2 melupakanku, aku tahu… atau, hanya inginmu! Apa buktimu bahwa kau melupakanku?
D ; Aku pergi dan tak pernah mencari tau keberadaanmu
A ; Tapi kau selalu menemukanku . Selalu tau apa yang terjadi dengan ku
D ; Karena aku tahu, kau akan selalu baik-baik saja
A ; bagaimana kau tahu, aku selalu baik-baik saja
D ; Karena aku selalu menjumpaimu di jalan yang tak pernah kita duga, dijalan yang kau dan aku sering lalui. Dijalan yang sama dimana kita menjadi tak pernah saling mengenal.
A ; seharusnya aku mengenalimu. Bukankah ku katakan bahwa semburatmu abadi?
D ; aku yang membuat mu tak mengenaliku.
A ; tak mungkin aku lupa tentangmu.
D ; tapi aku melupakanmu.
A ; sudahlah… jujur saja, kau tak pernah benar-benar melupakankukan? Kau hanya tak ingin menemuiku. Kau, lebih tepatnya…. Pergi. Apa alasanmu untuk pergi dan tak memberitahuku?
D ; Karena kau akan baik2 saja tanpa aku
A ; Aku selalu baik-baik saja.
D ; Aku tau. Itu mengapa aku percaya tak perlu memberitahumu…
A ; Aku kehilanganmu…
D ; Aku –tidak- kehilangamu…Tapi, kau berhasil lanjutkan kehidupanmu
A ; Juga dengan mu..Jadi…
D ; Lanjutkan hidupmu…
A ; Apa maksudmu dengan mengunjungiku dimalam-malam ku?
D ; Sekedar meyakinkan bahwa aku nyata buatmu, dan aku telah lama pergi darimu.
A ; Lalu?
D ; Sadari saja itu, kemudian lupakan aku. Tak perlu berurai air mata, tak perlu sumpah serapah. Percaya saja pada apa yang kau temui sekarang. Kau mencintainya, bukan?
A ; Tapi aku merindukanmu…
D ; Aku merindukanmu… tapi kau lebih merindukannya untuk hadir dalam hidupmu sekarang, bukan?
A; Aku tahu, seberapa besar keinginanku agar kau senantiasa hadir di malam-malamku…
D ; Kau mengharapkannya…
A ; sama sepertimu untuk terus ada dalam kehidupanku!
D ; Pupuskan harapmu atasku…
A ; Untuk semua mimpi yang pernah kau bagi dengan ku? Untuk semua hal yang pernah menjadi bagian mu? Menurutmu, itu tanpa makna?!
D ; Waktu berlalu, dan hidup berganti.
A ; Aku masih menyimpanmu dalam sudut hatiku. Dalam lorong pikiranku. Mengunci mati keberadaanmu disana.
D ; Itu pilihanmu!
A; Lalu??? Apa inginmu…
D ; Apa yang juga jadi inginmu…
A ; Melupakanmu?
D ; Melupakanku…
A ; Memaafkanmu?
D ; Maafkan dirimu…
……………. *hening dengan seruputan ringan-senandung angin-sayup percakapan-*
A ; Aku memaafkanmu..
D ; Kau memaafkan dirimu sendiri.
A ; Aku memaafkanmu… untuk tak pernah memberitahuku apa salahku, untuk penjelasan yang tak pernah kau beri padaku.
D ; Maafkan dirimu sendiri…
A ; Maafkan aku, untuk semua hal yang tak pernah bisa ku mengerti. Untuk waktu-waktu yang kuhabiskan untuk mengenangmu –dan tetap tak bisa mengerti diirmu-, untuk kesempatan yang tak pernah kuambil untuk mencarimu.
D ; kau tak perlu mencariku. Seharusnya tau dimana kau bisa menjumpaiku.
A ; Maafkan aku, Tapi aku tak pernah tau..
D ; Itu berarti, kau telah bertumbuh tanpa aku. Kau tak lagi membutuhkanku.
A ; Aku membutuhkanmu… menjawab semua misteri di masa laluku. Menjelaskan segudang kesalahanku.
D ; Tak perlu penjelasan, karena kau tak pernah salah. Itu keputusanku. Itu keinginanku; melupakanku.
A ; Baiklah, setidaknya aku mengerti, bahwa inginmu untuk melupakanku.
D ; Lanjutkan hidupmu…
A ; Hidupku terus berlanjut, selalu dengan episode baru 
D ; Seharusnya begitu
A ; Juga denganmu.
*************************

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Desember 2011 in Hikmah Keseharian

 

Selalu ada alasan untuk saya bersyukur

Di mulai tadi pagi, saat seorang teman mengirimkan pesan singkat ” makanya pake BB sono “.

Sebenarnya bisa dibilang itu stimulus netral, Saya malah sering bgt dapat komen lebih kejam dari itu perihal hape saya yang selalu mati klo dihubungi. Tapi entah kenapa, stetmen temen tadi pagi itu membuat saya cukup tersinggung, Langsungku balas sms “ngece… wew, upah yang saya terima 3 bulan sekaligus juga ga nyampe 3/4 gaji ente pak, jadi BB terlalu mewah buat saya ^^”. saya fikir, itu alasan terlogis yang bisa saya kemukakan. sebenarnya ga ad alasana buat tersinggung juga sih, tho pake BB or ga, ga ad ngaruh nya juga sama perjalanan hidupku, aktivitas harianku. Mungkin yang kemudian membuatku tersinggung adalah, perasaan diremehkan…direndahkan. Hm..bagaimanapun, kehidupan sosial kita mengajarkan penghargaan atas apa yang nampak, kelas-kelas sosial dibuat atas dasar kepemilikan. yang agak menyakitkan, kepemilikan ga jarang dijadikan alasan untuk memantaskan diri berada dalam status sosial tertentu. Ironi…

Sebenarnya, bukan rasa kesal saya terhadap stetmen teman yang saya anggap menyerang ego saya itu, yang ingin saya tulis disini, tapi pencapaian saya tentang pemaknaan rasa syukur dan retropeksi atas kondisi saya karena insiden itu. tentang makna kebahagiaan, tentang terminologi syukur. Ada banyak proses yang membuat saya -belajar- memahami.

saya memahami, pertama. rasa ksal saya terhadap teman itu karena pernyataan belio yang menyerang ego saya. karena saya emang ga punya. karena ga punya, saya tidak cukup mampu menjangkau perkembangan informasi yang beredar dikalangan teman2 pengguna BB, dan kenyataan itu membuat saya merasa terpinggirkan.

kedua, rasa kesal saya karena teman saya memakai standar yang paling saya tidak suka; kepemilikan sebagai parameter ke”sesuatu”an seseorang. konkritnya gini; kl kamu dah kerja di perusahaan X dengan jabatan Y, kamu bakal pajang poto2 makan makan di restoran Z. itu berarti ada peningkatan strata sosial bg dirimu. itu berarti kamu.. *apa ya kata2 yang tepatnya..bingung juga* sesuatu bangeettttt…. Senyummu difoto2 itu, atribut yang dirimu kenakan jadi identitas barumu yang-mungkin bermakana- bahwa kamu bahagia dengan kehidupan barumu. Baiklah…

ketiga karena, -ternyata- terminologi saya tentang rezeki dan bahagia itu berbeda dengannya… saya fikir itu yang membuat mengapa saya meradang dengan pernyataannya.

saya fikir, siapapun mau terlihat mentereng. saya fikir, kepemilikan  atas materi memang cara paling gampang untuk mengukur tingkat kesejahteraan. saya fikir, semua akan sepakat bahwa kepemilikan-materi adalah salah satu wujud rezeki, tapi tidak dengan kebahagiaan-dan terminologi atas rezeki itu sendiri…

Beberapa waktu lalu, terminologiku tentang Rezeki juga ga jauh-jauh dari materi (baca; duit!). bawaannya nyesek aja tiap liat dan denger perkembangan temen2 seperjuangan dulu yang udah jadi “A”, yang udah di “B”, udah melanglang buana ke “C”, dll. Berasa paling malang sedunia. Juga dengan terminologiku tentang bahagia. selalu saja afek depres tiap kali liat si fulan dah nikah dengan fulanah, si siapa udah punya anak, si siapa udah punya ini-itu dll. Berfikir, senyum yang mereka tunjukkan 9walo cuma dari poto sih biasanya) menandakan mereka sangat bahagia dengan kehidupan mereka…sedang saya? gini-gini aja (ini murni interpretasi saya) sampai suatu ketika, saya dibenturkan dengan apa yang saya interpretasikan sendiri.

Tertohok rasanya waktu beberapa orang bilang “kamu enak vy, masih muda udah bisa lanjut kuliah, bisa jalan2 kemanapun kamu mau tanpa harus mikirin kerjaan yang numpuk, mikirin ngirimin duit dll ” (dalam hati, aku bilang “Thanx Allah, buat mama-papa yang tak pernah menuntutku jadi seperti yang mereka mau, yang mengharuskanku kirim duit karena desakan kebutuhan mereka”..). Maka, aku pun berproses. Mengubah terminologiku tentang Bahagia dan Rezeki.. -ga sedrastis itu memang-

Maka, disinilah kutemukan makna itu. Kebahagiaan saat melihat mereka yang bertemu denganku, tersenyum. Bercerita dengan gamblang tentang berbagai permasalahan yang mereka hadapi, menangis-saat merasa tak mampu menghadapi-, tertawa saat menemukan sisi lain dari hal-hal yang sebelumnya tak pernah terfikirkan, muka bengong kosong, dan berakhir dengan sebuah pelukan dan senyuman saat mereka meninggalkanku. Tak jarang diiringi doa keselamatan dan kebahagiaan untukku. Disini lah kutemukan bahagia itu. Saat menyadari lelah karena overload kapasitas “mendengarkan”membuat kepalaku kembali nyut-nyutan, tapi ntah mengapa selalu terselip haru saat berhasil memahami orang-orang datang padaku -dengan interpretasiku tentunya- saat kugoreskan kisah mereka dalam sebuah laporan rekam medis. Buatku semua berganti syahdu, Seolah ada sayap-sayap malaikat yang mengusapku lembut untuk mengusir semua ketakmampuanku, berharap berjumpa mereka kembali dengan raut wajah lebih baik dari sebelumnya.

Tentang berapa yang ku terima, usahlah ditanya. lebih dari cukup untuk sekedar makan sehari dan sangat kurang untuk buat diriku terlihat ‘memiliki’ tentunya :). tapi, disini terminologi tentang rezeki ku temukan. Bukan dalam besarnya nominal, tapi pada apa yang aku sebut sebagai “kecukupan”. Jika kemudian dari nominal itu aku bisa lakukan sesuatu, buatku itu bonus. Untuk anak kos sepertiku, nasi dus sangat istimewa untuk sekedar makan siang, kue kotak lebih dari cukup untuk sekedar pengganjal lapar. Buatku itu rezeki ku. Setidaknya, untuk hari dimana aku bisa dapatkan itu (biasanya sih lebih dari satu kotak ^^), aku bisa menabung nominal jatah makanku buat besok ^^, *yihhaaaa….hari ini makan gratis!*, yang membuatku bahagia dari itu; cemilan ku banyak! Hureeeyyyyy, hehehe. Buat ku itu lebih dari cukup, setidaknya, hari ini aku tidak kelaparan :).

Pernah suatu ketika, aku kehabisan uang (bahkan tabungankupun kosong). tiba2 adekku sms minta ditranfer duit buat beli makan (hix…ngenes bgt yak), spontan aku jawab “okey, mau berapa?”. trus, tiba2 aku nyadar, aku ga punya uang…trus gmn caranya buat transfer duit ke adekku. Panik jelas. tapi, entah mengapa, selalu ada celah untuk menenangkan diri. beberapa waktu kemudian, seorang teman sms “vy, honormu udah ditranfer ke tabungan. monggo di cek”. seolah semua terlapangkan… atau suatu ketika, saat males beli makan, ada sorang teman yang datang ke kosan sambil bawa makan, atau saat butuh teman ngobrol teman yang lain tanpa diminta menawarkan waktu untuk berjumpa. sejauh ini kondisi-kondisi itu kuterjemahkan sebagai REZEKI… Perlahan, ku pahami bahwa Apa yang telah ditakdirkan mejadi hak ku akan menjadi hak ku. dalam interpretasi sederhana, Allah selalu mencukupkan apa yang menjadi kebutuhanku. Ini membuatku merasa bahagia *lagi*.

Maka, yang ku yakini sekarang adalah kecukupan yang membuatku bahagia, interpretasiku pada apa yang membuatku bahagia akan menjelma menjadi sumber kebahagiaan buatku. Rezeki, bukan tentang apa-apa lagi yang bisa ku nilai dengan nominal,tapi apa-apa yang bisa mendatangkan kebahagiaan-kesejahteraan buatku. Bertemu dengan banyak orang, bertemu dengan  orang baik adalah rezeki buatku 🙂 *pinjem istilahnya mas Andi; Investasi sosial yang pasti akan sanga membantu kita tanpa kita tau kapan kita kan merasa sangat terbantu leh itu*, pintu buatku untuk menjemput rezeki-rezeki ku yang lain, perantara untuk mengantarkan rezeki bagi orang lain juga -juga jika rezeki itu berupa nominal;)- adalah rezeki.

Huffh… Aku tau, Tidak ada alasan untuk mengeluh atas ketiadaan. Selalu saja ada alasan buatku untuk berucap Alhamdulillah, menggemakan takbir dan tahmid akan rasa takjubku. Seperti kalimat yang sering kudengar “ga usah ngoyo, akan ada masa buatmu…” ato “klo rezeki mah ga akan kemana”.

ya… selalu ada cara yang mengingatkan bahwa saya beruntung, seperti selalu saja ada alasan untuk saya bersyukur :).Demikianlah, pemaknaan yang membuatku merasa kian kaya :).

 

*Gedongtenen, dihembus semilir angin. Desember 7, 2011.

satu poin terlewati, terbayar lunas.

 

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 7 Desember 2011 in Hikmah Keseharian

 

Ah, sudahlah…

Pernah terpaksa harus melupakan sesuatu?

aku punya beberapa …

 

*********************

Sebenarnya, aku benci harus mengingatnya lagi. Bukan kenangan menyenangkan, hanya akan membuatku tak henti bertanya. Hanya sebuah kisah di masa lalu dengan orang yang kusebut sahabat, dan dia memilih untuk melupakan ku; Baiklah…

Ga sengaja, beberapa hari lalu chat dengan seorang teman yang sekarang. Entah mengapa, aku tiba-tiba seperti diingatkan akan sebuat janji. Lebih tepatnya, janji teman itu padaku untuk bercerita sebuah hal yang dia bilang “RAHASIA”.

Hm…agak iseng aja waktu ku tagih. Dia bilang sudah lupa. aku fikir wajar saja, kami sudah lama tak jumpa, toh kejadiannya sudah hampir 4 tahun yang lalu. Seandainya teman itu mengalihkan ke pembicaraan yang bisa memjaga komunikasi dua arah, mungkin aku tak menaruh prasangka apa-apa, tapi..tiba2 teman saya itu bilang ” udah la vy, lupakan saja”.

wakz???? ada apa ini? kenapa harus di lupakan?. jujur saja, saya ga bisa terima waktu dia bilang sudah lupa..yahhh yahhh yahhhh…lagi2 waktu yang menghapus segalanya. saya benci dengan statement coping pasif macam ini! tapi ya..hak dia untuk tidak  menceritakan apa yang pernah dijanjikannya padaku.

Sebenarnya, ada harap bahwa semuanya sedikit membuka lewat kisahnya. kisah tentang seorang yang pernah ku sebut sahabat dan sekarang emmilih untuk tidak mengenalku…

aku hanya ingin tahu…

apa yang bikin seorang harus buang muka saat ketemu dengan orang yang lainnya?

kesalahan besar macam apa yang harus bikin orang yang pernah kita sebut ‘sahabat’ harus putar jalan waktu ga sengajan papasan?

lantas, alasan apa yang bisa membenarnya seorang yang dulunya pernah saling mengisi untuk saling meniadakan?

Sudahlah,

Mungkin, memang ada tanya yang hanya bisa dijawab oleh masa. Saya hanya percaya, semesta tak akan diam begitu saja. Semua bergerak dalam orbitalnya, dan akan ada jawab nantinya…

Semoga.

 

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 22 Juli 2011 in Hikmah Keseharian

 

Tetap tidak mengerti, tapi aku (akan) mengerti!

hari ahad yang melelahkan. bagaimana tidak, seharian googling cari data, ketemu cuma 4 data (alhamdulillah…walo cuma empat kan tetap ketemu juga^^). ba’da ashar siap2 bayar utang ngelesin (karena kemaren ga datang, hujan lebat). Belum juga nyampe kos selesai ngelesin, seorang teman minta dijemput ba’da magrib untuk takziyah. ku bilang aja, belum nyampe kos, mungkin ke sana ba’da isya.

dilematis juga, antara tetap diam di rumah atau menunaikan hak saudara semuslim. akhirnya, ditengah hujan lebat ku pacu sepeda motorku ketempat ta’ziyah, sebelumnya jemput teman yang dititipi teman yang lainnya untuk dijemput. sesampai di temapt teman itu, ternyata sang teman belum siap, so aku harus nunggu belio ganti baju sementara jam tetep jalan (dalam hati bilang : nyampe sana udah selesai neh yasinannya). setengah hati teman saya itu ikut juga walo sempat terucap sebenarnya dia ga niat buat ke sana karena hujan. saya diam aja setengah gondok “klo emang ga niat mah sms aja bilang ga usah dijemput…”.

kekesalah saya ga sampai situ. hujan yang lebat sejak sebelum magrib membuat beberapa ruas jalan tergenang air hingga sepaha orang dewasa. ditengah jalan liat beberapa orang nuntun motor. mungkin karburator atau ruang bakarnya kemasukan air, fikir saya tanpa sama sekali berfikir bahwa sayapun akan mengalami hal yang sama beberapa menit kemudian. dan…jelas saja, 50 meter dari rumah yang dituju, motor saya mati dengan alasan yang sama: kebanjiran tanpa sempat saya prediksi! alhasil motor saya pun mati dengan suksesnya, vutuh perjuangan satu jam untuk membuatnya hidup kembali!

keksalan yang pertama muncul waktu saya menghubungi seorang yang saya fikir akan membantu saya, memberi pencerahan dengan statusnya sebagai ahli mesin…tapi…tapi..lagi2 saran yang saya dapat adalah : bawa motornya ke bengkel aja!halooo…. anak kecil aja tau kalee klo motor ga bisa idup itu dibawa ke bengkel!tapi…ini tengah malam!mana ada bengkel buka 24 jam, hari minggu pula!setidaknya kasih masukan realistis kek!konkrit gitu dengan bilang mungkin a yang mesti di bersihkan ato b yang mensti dicopotin… karena bosan plus kesal dengan sarannya yang sangat teoritis, hape saya matikan paksa sambil terus berusaha membuka karburator yang saya fikir basah karena banjir tadi. kesal saya belum hilang, datang seorang teman saya yang cuma bisa komen dan ngomel tanpa mau pegang secuil pun bagian dari motor saya… saya cuma bisa tarik nafas panjang sambil melirik2, mungkin ada kain pel yang bisa saya pake buat nyumbal mulut rese nya sebentaaarrrr aja selagi saya cari cara buat bikin motor ini nyala lagi…

setelah pergulatan panjang yang bikin betis saya masih keram ampe sekarang, ditambah bantuan dua orang yang sangat berjasa, tepat 80 menit kemudian motor saya nyala…alhamdulillah…akhirnya saya bisa pulang dengan badan bau bensin dan berdamai dengan dilema : ngedorong motor ampe kos yang jaraknya 5 km ato bertahan nunggu bengke buka besok pagi. di kepala saya cuma ada satu yang ingin dituju : kasur saya yang udah berasa lantai itu.

Nyampe kosan,  setelah membersihkan diri dan merendam pakaian saya yang baunya naudzubillah itu (saya mikir, saya sepertinya lebih bakat jadi calon montir ketimbang calon psikolog dehh…), segeralah merebahkan diri di tempat yang saya visualisasikan 90an menit sebelumnya…tiba-tiba, hape saya berbunyi, tanda sms masuk.

Sambil bertanya dalam hati, siapa yang sms lewat tengah malam gini (seingat saya, saya ga ultah hari itu), saya liat nama yang perpapar : dosen pembimbing saya!wakkkkzzz….ada apa lagi neh?hati saya langsung ga enak (walo emang belio lumayan sering sms tengah malam gitu…), benar saya! di sms itu belio bilang ” via, icha anakku yang baik, mohon bantuan doanya ya, proposal kalian teancam diskualifikasi karena telat submit. semoga negoisasiku berhasil…”

wattttttttzzzz??? telat??? how came??? bukannya belio yang terhormat itu minta dikirim file nya sejak senin minggu lalu sebelum jam 12 (jam 12 d’last time submit proposal)? trus kita udah kirim proposal itu before jam 12??? kenapa juga bisa telat????ahhh…ga masuk akal…kecuali….

penasaran, saya balas sms belio : “lhe, kok bisa telat mak?how came? bukannya kita udah kumpul sebelum jam 12 senin lalu??”. saya udah ga ada minat buat tidur neh…30 menit kemudian, sms belio masuk ; “hooh, aku lali, agi kumpul rebo..”

masyaAllah…beneran!saya ga bisa tidur seharian itu..mikir panjang, kenapa hari ini semua kabar yang kuterima kok ga ada yang bikin senyum yak?? kurang ngelindes anak cecak lagi neeh…klo sampe iy, perfect banget hidupku hari ini!perfect sial nya maksud nya… *ya Rabb, faghfirli…*

baru bisa tidur ba’da subuh, harus bangun karena huru-hara rutin anak kos setiap jam 7 paginya. sumpah!kepalaku pengen pecah rasanya…ga tau kenapa, feel blue aja pokoknya…seharian ngelungker di kamar kos sambil merenungi nasib.

negliat lagi kenapa bisa ampe kejadian seperti ini keulang lagi (dengan versi yang berbeda, namun esensinya tetap sama). ngerasa jadi korban aja. sejak awal waktu dipinang belio buat jadi anak bimbingannya aku dan mikir : kok aneh banget tiba2 belio minta kita pindah ke belio? bukannya belio udah pegang 10 mahasiswa mapro angkatan ini pluz mahasiswa mapro yang belum lulus angkatan kemaren? tapi, lagi-lagi sms nya yang bilang “wis ta tembung dari mamak sofie, koe karo icha neng aku sa’iki y nduk…insyaAllah ono dana hibah. njuk penelitianmu ta akuisisi pake dana hibahku, smg bisa membantu”.

aku berembuk dengan temanku, bilang kok feelingku ga enak ya..seolah ada sesuatu dibalik ini yang membuatnya meminta kita dibimbing belio..temanku meyakinkan wis, ga papa vy, yang penting kita positif dapat hibahnya. yang penting tesis kita cepat kelar, gek ndang lulus. kan bisa bimbingan informal dari mak sofie juga..dia mencoba menenangkanku. baiklah…waktu itu aku bilang..bismillah aja deh, semoga ga ada apa2 dibalik ini.

satu minggu, satu bulan, dua bulan, semua jalan lancar walo jatahnya bimbingan kelompok kita ga seperti kelompok yang lain. it’s ok…yang penting kita sendiri sendiri selalu up-date revisian. apalgi digadang-gadang, kita akan jadi gelombang pertama yang akan kompre diangkatan kita. semua sudah matang dipersiapkan, tinggal fixing modul, ujian himpsi,  workshop pre kompre trus daftar ujian kompre.Tho, alat ukur udah jadi. tinggal jalan ujicoba trus running intervensi yang sebenar-benarnya…

hm…rencana tinggal rencana. getir baget. miris saat ingat lagi bahwa kegagalan kita bukan karena kesalahan fatal yang kita sendiri lakukan. klo karena saya secara personal yang belum siap dengan modul yang belum jadi, alat ukur yang belum ditulis or apalah gitu, mungkin saya bisa terima klo proposal “terancam” diskualifikasi. ini???semua udah sesuai alur. sangat terencana, bahwa udah sampai pintu terakhir sebelum akhirnya dana di kucurkan : final exam! tapi…ini masalahnya teknis banget! telat ngumpulin padahal udah kita kumpulin sejak senin bahkan sebelum jam 12!so???

aku cuma bisa diam. ga ada gunanya ngomel-ngomel. tho udah kejadian, walo berharap masih ada kesempatan kedua, walo cuma sekiaaaannnn persen saja. lagi, saya cuma ngerasa aneh aja. ngerasa harus bertanggungjawab dengan kesalahan yang tidak saya perbuat. seketika semua kembali berkelebat. tapi mau apalagi kecuali pasrah dan berbaik sangka bahwa ada pelajaran setelah semua ini yang mungkin ga bisa ku lihat sekarang. tapi sangat yakin akan ada hal yang membuatku tersenyum besok atau lusanya… klo kata mamaku, mungkin ini teguran Allah karena ksalahanmu yang lalu-lalu..ato allah pengen menguji mu dengan kegagalan (sebenarnya belum bisa disebut kegagalan seeehhh) ini… dalam diam ku jawab : mungkin saja.

atau, seperti kata temanku…rilis Vy, ga ada yang bikin kamu bangun kecuali kamu sendiri…yap…cukup hari kemaren aku terpuruk (sekarang masih aja sebenarnya), ga ngapa2in seharian. hari ini aku mau cari jurnal baru. ngejalanin Plan B ku…aku tau, aku harus survive, SENDIRI! seperti hal yang dulu-dulu…yang akan datang juga. ga mau bergantung dengan dana itu walo aku sadar, itu motivasi terbesarku kenapa aku ga pengen idealis di tesis ku ini…

baiklah…akan ku jalani, karena aku udah ga mau bayar lagi buat semester depan. karena aku ga mau perpanjang masa studiku di sini (dengan sgala arogansi kebijakan kampus dan orang-orangnya), karena..aku pengen ramadhan kali ini bareng mama dan adikku di rumah yang telah kutinggalkan sejak 14 tahun lalu…

aku tau, suatu saat aku akan mengerti…

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Mei 2011 in Hikmah Keseharian

 

Sensitifitas Rasa

Berawal dari obrolan dengan seorang teman, saya tergugah untuk menuliskannya kembali, dengan bahasa dan interpretasi saya tentunya.

berawal dari obrolan ringan menanti siaran langsung Royal Wedding Wills-Kate. Obrolan ringan dan dangkal yang membuat kami merasa benar-benar manusia biasa..tiba-tiba handphone temanku berbunyi. Tertera di sana nama dekan Fakultas tempat nya mengajar di salah satu unversitas negeri di pulau Sumatra. beberapa lama, deringnya kami biarkan saja, ku lihat, wajah temanku berkerut, berguman “pak dekan? ada pasal apa dia telfon saya?”. ragu2, diangkatnya juga telfonnya… dari pembicaraan yang berlangusng tak lebih dari dua menit itu saya tau bahwa salah temannya teman saya itu (sebut saja bu Is) sepertinya sedang ada masalah. kemudian, mengalirlah cerita dari teman saya tentang ibu Is itu. sempat ada ‘Tegg” yang berdentang dikepala saya seketika saat teman saya tersebut bercerita bahwa suami dari bu Is sedang di rawat di RS karena serangan jantung. hm…rasa yang kemudian baru saya sadari maknanya beberapa menit kemudian.

sambil berdiskusi menebak apa yang sebenarnya tengah terjadi dengan bu Is, teman saya tersebut menghubungi seorang temannya yang juga sedang tugas belajar dari universitas yang sama. akhirnya kami bersepakat untuk menuju rumah bu Is. mencari tau kondisi nya saat ini.

“hm…emang beberapa hari ini dia aneh banget dek, ga seperti biasanya” teman saya itu berkata lirih sambil mengrutkan kening.

“ga bisanyanya gimana maksudnya kak?” saya bertanya.

“ya, itu… jadi lebih ketus. klo ditanya jawab singkat. aku sempat kesinggung sih dengan kejadian beberapa hari lalu, tapi entah kenapa aku ga bisa marah. tho biasanya dia bakal cerita”.

“mungkin lagi ada masalah, jadi ga konsen” aku menimpali sekadarnya sambil tetap menatap televisi (sejatinya, otakku juga berfikir, menimbang rasa ku dengan seliwer nada aneh yang menyapa hatuiku beberapa saat lalu).

lalu., mengalirlah cerita dari temanku itu tentang kebimbangan yang diinterpretasi temanku itu sebagai bentuk ketakutan sang suami saat sang istri mencapai gelar tertinggi dalam dunia akademik. aku cuma mengangguk-angguk sok tau. sekali lagi, aku mencoba menganalisa permasalahan dengan sudut pandangku. hingga aku tiba pada kesimpulan : mungkin saja.

“tapi, kokya bisa dia nangis sama pak dekan? seharusnya kan dia cerita ke aku dulu sebagai temannya. tho sama pak dekan dia juga ga cerita apa2 ” temanku itu tetap kekeuh.

aku diam saja, sebab seliweran rasa yang membuat kepalaku sakit lagi itu kian terasa. pasti ada hal yang sangat berat yang membuatnya seperti itu. lagi, rasa ini??kenapa kembali hadir….aku mulai aware dengan kemungkinan terburuk yang terlintas dikepalaku, namun *seperti biasa* tetap tak bisa kubahasakan.

beruntung, seorang teman (sebut saja bu w) yang tadi ditelfon dan bersepakat untuk menjenguk bu Is datang dan mereka segera berbincang serius. sadar bahwa kehadiranku mungkin tidak tepat, aku pamit sebentar, ambil speatu yang tadi siang ku reparasi.

sepanjang perjalanan, aku mencoba meredakan gemuruh di diriku, berharap sakit kepalaku mulai mereda. tiba di kosan, ku lihat bu W pindah duduk di kamar sebelah. mukanya tertunduk diam, aku mencoba tersenyum, namun ditanggapi dingin. ku lihat, HP ku yang kutaruh dikamar temanku itu. ada 2 panggilan tak terjawab dari dia dan satu sms yang membuat tanyaku terjawab. “via, cepat pulang ya. ada berita duka”.

“bu W, tadi kakak telfon aku y? ini sms nya maksudnya apa?” aku berjalan ke kamar sebelah, kamarnya bu morin.

“iya Vy, itu…suaminya bu Is meninggal barusan”….

Innalillahi….Allah…aku merasakannya kembali….

*****************************

” Via, itu lah manusia ya,… gimana kita akhirya itu pasti lah ditentukan dengan kualitas kita sekarang ya….” temanku itu membuka percakapan saat aku melangkahkan kaki ke kamarnya.

aku diam. hm..mungkin dia pengen cerita tentang kondisi bu Is terakhir. aku ingat, aku tak bisa hadir di pemakaman suaminya bu Is.

“kenapa kak?”

” Pasti bu Is nyesal banget yo,,, ga bisa nemenin suaminya sebelum sakaratul maut..” aku menyahut, mencoba mengurai memoriku tentang cerita yang masih berseliweran di kepalaku.

“ga cuma itu vy… sesal pasti lah, tapi semuanya kan udah jalanNya Allah. Allah pengennya begitu…seharusnya ya bla bla bla..” mengalirlah penilaiaan temanku itu tentang kondisi yang dialami bu Is…

andai saja, bu Is mau menetapkan hati untuk menemani suaminya di rumah sakit tanpa harus mondar mandir ke kampus mengurusi syukuran wisuda doktoralnya, menyenangkan hati para promotornya dengan berterus terang dengan kondisi suaminya…

tapi kan, suaminya Ridho dan mengizinkan bu Is untuk ke kampus karena itu hari terakhir bu Is ketemu mereka untuk kemudian pulang ke daerah.

iya, tapi seharusnya bu Is ikut kata hatinya; nemenin bapak! bukan wara-wiri ngurus ini itu…

iya, tapi kan itu komitmennya dia juga…loyalitas dia…prinsipnya dia yang mementingkan urusan banyak orang di atas kepentingannya sendiri…

iya tapi…iya tapi…iya tapi…temaku itu memberikan alasan “seharusnya” dan aku membantah dengan alasan “sejadinya”… debat kusir berlangsung hampir satu jam. cireng yang tadi ada 8 buah dipiring tinggal 1.

aku juga gitu vy..kamu ga tau gmn menyesalnya aku ga bisa ndampingi  nenekku sebelum sakaratul maut, padahal aku udah janji ke dia mau nemenin dia..padahal sebelumnya aku baru bawain dia kain, mukenah…kenapa aku tetap aja egois dengan wara-wiri kampus, mau mandi di rumah aja…makan di rumah aja..padahal aku udah minta izin, padalah aku bisa mandi ato makan di RS aja…nenekku itu udah anfal Vy..tinggal nunggu waktunya aja… aku…aku udah ga negliat waktu papaku meninggal…aku mengulangi kesalahan yang sama Vy! padahal aku tau…andai aja aku cukup sensitif dengan hatiku….

ada sesak di dadanya saat bercerita tentang itu… aku mulai berhipotesa: kematian suami bu Is mengingatkannya dengan salah satu kejadian traumatis yang pernah dialaminya….

kamu Vy..kamu tu orangnya juga teledoran! kemana-mana lupa bawa dompet!ga bawa uang! lupa naruh kacamata!lupa naruh kunci motor, kunci kamar..” Hugggg…aku kaya’ di seruduk dari belakang!, ya itu aku…

kamu harusnya juga sensitif dengan itu, Vy…

aku langsung ingat:

ada banyak tanda dari nuraniku yang ku abaikan…

saat pamanku meninggal… beberapa jam sebelumnya aku masih bejumpa dengannya, menjabat tangannya. tetap mencoba mengajaknya berbicara walau aku mulai merasakan ada hal aneh yang menjalari ku, seolah-olah hatiku ingin bekata “sepertinya ga lama lagi…” waktu itu, pamanku lagi sakit. beberapa jam kemudian, kepalaku terasa sangat sakit, sakitttt sekali…aku sampai nangis!tepat saat sakit dikapala ku mulai mereda, telfon dari adik sepupuh mamaku membuatku meyadari rasa aneh yang menjalariku beberapa jam yang lalu. “cik be’e menginggal barusan..” kata mamaku menggantung sambil menatapku *sepertinya syok*. aku lebih syok lagi! rasa itu tetap mengikuti ku, setelah beberapa kejadian yang sama sebelumnya…sebelumnya dan sebelumnya lagi…

episode lainnya :

bolak-balik masukin laporan ke tas, akhirnya membuatku berketetapan menggantung laporanku di motor. lima belas menit lagi mau tes, ga boleh telat. aku fikir waktu itu. jadi setengah berlari aku menjauhi motorku. pada angkah kesekian aku ragu… “apa ku bawa aja laporanku yak, dari pada tar ada apa”..”berat tau ka…kesian punggungmu” hati ku yang lain membantah “langit juga cerah tu” itu semakin menguatkanku untuk ga bawa laporan “toh, motormu di bawah atap kok…”, aku makin berjalan mantap..tapi tetap ada keraguan…

tepat beberapa soal terakhir, suara di ruangan berubah kencang, sepertinya hujan. aku menoleh ke belakang, ke arah jendela “hmmm masih cerah-cerah aja”, aku mencoba berkosentrasi walo kepikiran laporanku. suara yang tadi ku dengar muncul lagi, aku berfikir mungkin itu suara Ac karena aku duduk tepat di bawah Ac. tapi…saat ku tatap ke belakang, hwaaaaa…. benar2 hujan! dan..aku sangat-tidak-bisa-kosentrasi! yap…laporanku…

seselesai tes, aku langsung berlari menembus hujan. perkiraanku benar. bagian depan tempatku menggantungkan laporan : basah! antara pengen nangis, menyesal menginda kan pertanda yang diberi hati…tapi, aku bisa apa lagi…

**************************

kasus bu Is, laporan ku yang basah, Pertanda-pertanda yang tak pernah ku tahu maksudnya apa..membuat ku tahu ” rasa tak pernah salah, Selalu ada cara untuk membaca pertanda”.

entah lah…

*yogya, 1 Mei 2011

saat aku masih tak percaya…

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Mei 2011 in Hikmah Keseharian

 

aku pernah merasakan sempurna

setidaknya aku pernah merasakan sempurna…aku mencoba menenangkan diri saat semuanya seolah tak bisa diperbaiki.

hanya menunggu waktu, cepat atau lambat semuanya akan terjadi. tapi aku tak mau demikian!aku berontak. banyak hal yang bisa ku lakukan untuk berbaiki semuanya, paling tidak menunda sesaat. aku masih berontak!befikir keras, menerobos seribu jalan yang mungkin ku pilih…tapi apa????

aku mulai ragu, masih ada kah yang tersisa disaat semuanya tercerabut hingga akar?

tapi, aku tak mungkin menunggu, saat semuanya terlambat, menyisahkan penyesalan pada banyak pihak. karena aku tak pernah tau! itu masalahnya…

setudaknya aku pernah sempurna, mengecap semua rasa dunia. kalaupun sekarang tidak, sang empu nya kesempurnaan telah menuntaskan amanahnya…aku harap aku bisa berfikir jernih tentang ini.

 

saat gelap mulai menutupi penglihatanku

saat lemah mulai membuatku tak bisa berbuat apa-apa

saat lupa jadi sahabat keseharianku

saat tiada lagi aroma fajar ku hirup

aku hanya ingin berucap: terimakasih pernah membuatku merasakan sempurna.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Desember 2010 in Hikmah Keseharian

 

Mencintai Hujan

Telah ku katakana padanya, aku tak menyukai hujan. Bagaimana tidak, aku yang pengendara motor dan kemana-mana terpapar panas harus basah kuyup dan terserang flu saat hujan mengguyur bumi. Basah! Tak tersisa, tanpa celah yang bisa bercerita bahwa sebelum hujan turun aku kering, bersih dan baik-baik saja.

Berulang kali ku katakan padanya, bahwa aku tak pernah suka hujan. Siang atau malam, saat airnya turun menghujam bumi, yang kurasakan hanya mencekam. Belum lagi jika petir meningkahi derasnya hujan; bersahut-sahutan. Bagiku, itu muram. Aku terpasung dalam ruang yang melindungi dari hujan yang tak pernah kusuka. Hanya merutuki masa, kapan hujan akan berhenti dan aku kan kembali bergelimang cahaya matahari (jika hujan turun di siang hari).

Walau telah lelah rasanya berkata bahwa aku tak suka hujan, namun aku tak mampu mengingat sejak kapan aku tak suka hujan. Bagi ku, semua hujan sama: basah! Tapi, dia selalu membantahku dengan senyumnya dan berkata : hujan itu indah! Katanya, pelangi hanya akan tersenyum setelah hujan menyiram bumi. Katanya lagi, kesegaran setelah hujan mampu menyejukkan kerontangnya dunia, menghidupkan kembali tunas-tunas yang hampir sekarat dipanggang mentari dan diracuni polusi. Hujan menyisahkan kesyahduan yang hanya bisa dirasakan oleh hati, ujarnya kembali.

Dia selalu suka hujan, berbeda dengan ku. Sebab, katanya padaku, ”Tuhanku menurunkan berkah dalam hujan”.

Aku tak mengerti karena aku tak penah menyukai hujan. Hm, tapi…sekonyong-konyong aku mengingat bahwa aku pernah menyukai hujan. Sewaktu ku kecil, betapa aku menikmati sensasi suara saat hujan. Menatap guyuran airnya dari jendela kaca rumahku. Menelusur riaknya pada sungai kecil disebelah kamarku. Aku akan menyelimuti diriku dengan selimut tebal, menutup kedua telingaku dengan bantal dan merasakan misteri suara hujan yang teredam. Seingatku pula, saat ku kecil, aku selalu menanti hujan agar bisa berkumpul bersama teman-temanku, bermain air atau sekedar merentangkan tangan ditengah derasnya hujan walau menggigil kedinginan. Setelahnya, aku akan meminta minta pada ibu untuk mandi air panas kemudian minum secangkir susu hangat. Yang paling ku ingat saat hujan…aku bisa menggelungkan tubuhku di pangkuan ibunya, berbisik padanya; ”mama, peluk aku…aku ingin tidur dipangkuanmu, sambil bersihkan kupingku ya….”

Seketika, aku tahu. Aku pernah menyukai hujan.

Yogya, 8 Juni 2010

*saat Yogya diguyur hujan sejak tadi siang*

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Juni 2010 in Hikmah Keseharian